Genealogi (Penelusuran Silsilah) dan Kesadaran Moral.

Seringkali, semasa kanak-kanak, kakek saya bercerita mengenai para pendahulu keluarga. Begitu antusias beliau menjabarkan. Hingga suatu ketika, gulungan kertas seukuran poster ditunjukkan kepada saya.

lah-silsilah-avi_000013526

Cover; Ditulis pada campuran kertas kalender dan kertas manila.

“Ini apa, Tuk (Datuk adalah panggilan kakek)?” tanya saya.

“Ini sejarah darimana kita berasal.” jawab beliau.

lah-silsilah-avi_000329404

Bagan silsilah.

Kala itu, saya belum memahami benar kegunaan penelusuran keturunan tersebut. Paling-paling hanya untuk mencari saudara-saudara jauh, pikir saya.

Dan saya kira, di abad 21 yang hiper-individualistik dan serba-kekinian ini, berapa banyak sih yang punya ketertarikan akan penelusuran silsilah? Tidak banyak, bukan?

Nyatanya, hal tersebut penting dilakukan.

Kita, utamanya lelaki, perlu memulainya. Menelusuri gen yang selama ini ada di tubuh kita. Yang membuat kita seperti sekarang.

Istilah keilmuannya, genealogi. Berikut pengertian yang diambil dari Wikipedia.

Genealogy (from Greek: γενεά genea, “generation”; and λόγος logos, “knowledge”), also known as family history, is the study of families and the tracing of their lineages and history.

Mengapa kita perlu melakukan genealogi? Berikut alasan-alasan dari kacamata saya.

1. Sebagai Ungkapan Terima Kasih

img_1790

Kakek dari Kakek.

Berterima kasih tidak mengenal masa kadaluarsa. Dari genealogi, saya bisa berterima kasih akan jasa pendahulu saya. Terlebih, secara agama, bisa mengirimkan doa dengan lebih spesifik. Tentunya, akan lebih melegakan jika kita mengetahui sosoknya, bukan? Minimal, mengetahui namanya.

Sepanjang cabang-cabang dari jalur silsilah, disana juga terdapat orang-orang yang berjuang keras, orang-orang yang menderita, dan mungkin yang ditembak mati. Salah satunya, cerita kakek saya mengenai pendahulu keluarga yang tertembak ketika hendak naik kapal dari Sumatera Barat. Hal tersebut dituangkan dalam silsilah berikut:

lah-silsilah-avi_000084675

“Jumlah anaknya sebetulnya 6 (enam), namun yang tertua tertembak ketika akan berangkat berlayar dan dikubur di tanah asal.”

Innalillahi. Bagi saya, dengan mengenalnya, membuncah keinginan untuk berterima kasih kepada beliau.

Pendahulu-pendahulu kita memang bukan orang yang sempurna. Namun, mereka telah melakukan satu hal dengan baik: tetap hidup sampai setidaknya cukup untuk mewariskan gen mereka — gen yang membentuk kita kini. Mereka membentuk kita menjadi kita sekarang.

…rasanya tidak sopan jika kita melupakan mereka. Benar atau tidak?

2. Setiap Orang Mati Dua Kali.

Konon, setiap orang mati dua kali.

Kematian pertama, terjadi ketika seseorang telah mati secara fisik. Kematian kedua, terjadi ketika nama seseorang diucapkan untuk terakhir kali.

Dalam pandangan ini, genealogi adalah seni menyambung kehidupan. Melalui riset sejarah keluarga, kita dapat meyelamatkan mereka dari kematian kedua.

lah-silsilah-avi_000536678

Kakek dan saudara sepupu saya, September 2010.

“(Dokumentasi) versi yang asli ada dimana, Tuk?” celetuk sepupu saya, di video yang terekam ketika kakek masih hidup tersebut.

“Dokumentasi asli ada. Tapi sudah dibakar sebelum ada Jepang disini. Waktu itu, diminta dikumpulkan semua oleh salah satu embah. Dikumpulkan jadi satu, lalu dibakar.” jawab Kakek.

“Kenapa dibakar, Tuk?” timpal sepupu saya lagi.

“Kalau silsilahnya sampai jatuh ke tangan Jepang, bisa dihabisi semua yang ada disitu.” jelas Kakek.

Seru. Selalu ada keseruan ketika membahas cerita-cerita Kakek. Cerita Kakek mengenai Kakeknya. Dan, mengenai Kakeknya Kakek.

Lalu, ketika kita ingin membuat peta genealogi tetapi belum memiliki data sama sekali, harus memulai dari mana?

Kita bisa memulai dari bertanya kepada keluarga terdekat. Ya, itu membutuhkan waktu. Dan juga, membutuhkan niat yang konsisten.

Di samping itu, dapat pula kita mulai dengan mencari pada Data Kependudukan. Data tersebut ada pada BPS maupun Kemendagri. Paling tidak, bisa dua sampai tiga tingkat ke atas.

Memang, bagi orang lain, bisa jadi pendahulu kita bukanlah siapa-siapa. Tetapi, bagi kita adalah penting, bukan?

 

Mari, kita selamatkan mereka dari kematian kedua.

Guntur.

 

One comment

  1. buzzerbeezz · December 16, 2016

    Widih.. Silsilah keluargamu orang-orang keren ya Tur. Jadi pengen ngerunut silsilah keluargaku juga nih

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s