Merokok dengan Sikap (Smoking with Manner)

Hidup di Indonesia unik. Banyak hal-hal yang membedakannya dengan negara lain. Salah satunya mengenai rokok-merokok.
Rokok, bagi sebagian lelaki Indonesia sudah menjadi kultur, kudapan, atau bahkan terapi. Pun bagi saya.

Sedikit perspektif dari saya mengenai rokok:
Pernah seorang kawan bertanya kepada saya “Gun, kamu lari pagi sudah rutin, lalu kalo malam makannya buah, tapi kok masih merokok? kan percuma saja..”

Saya hanya tersenyum.

Dalam perspektif saya, kesehatan itu amat penting. Oleh karenanya saya berusaha menjaga kesehatan saya dengan baik. Rajin berolahraga dan makan buah. Serta, sebisa mungkin saya selektif dalam memilih makanan.

Tetapi, jauh di bilik pikir saya pribadi, saya melihat bahwa apapun karunia Tuhan di dunia ini tidaklah semestinya kita nikmati sendiri.

Ada sedikit nikmat kesehatan yang ingin saya bagi. Setidaknya, saya konversikan menjadi butiran nasi makan malam buruh tani di industri tembakau. In other words, enjoying the taste of cigarettes.

Sebagai lelaki Indonesia yang baik, dalam menikmati rokok, tentunya kita harus memperhatikan sikap dan sopan santun. Istilah simpelnya, manner.
Manner, essentially, mempengaruhi nilai diri seorang lelaki.

Merokok sah-sah saja dilakukan, sepanjang memperhatikan manner. Istilahnya, smoking with manner.
Apa saja manner yang perlu diperhatikan dalam menikmati rokok?

1. Merokoklah sesuai situasi dan kondisi.
– Merokoklah di dalam smoking room yang tersedia.
– Merokoklah di tempat terbuka yang memang layak digunakan sebagai tempat merokok.
– Jangan merokok di tempat yang dilarang.
– Dan, jangan merokok di tempat ber-AC.
As simple as that, man!
Kamu pasti bisa!

2. Memperhatikan orang sekitar.
Walaupun di warung makan yang tidak terdapat tulisan ‘no smoking’, bukan berarti kita boleh menikmati rokok sesuka kita. Kita baru layak menikmatinya ketika kita telah memastikan bahwa di sebelah kita tidak terdapat ibu-ibu, anak-anak, maupun orang-orang yang rentan lainnya.

Dalam hal merokok di rumah sendiri, jika terdapat anggota keluarga lain, lebih baik jangan. Atau lebih baik pergi ke kebun belakang atau poskamling terdekat. Seperti saya, ketika pulang kampung.

3. Memperhatikan jenis acara.
Tempo hari, sewaktu menghadiri acara yasinan meninggalnya kakek di Banyuwangi, saya disuguhkan rokok sebagai salah satu snack bagi para warga yang mengaji. Kala itu lokasi pengajian ada di ruangan terbuka.
Mau tidak mau, semua orang yang merokok, akan merokok. Akan ganjil apabila kita yang biasanya merokok tetapi tidak mengeksekusinya.
Dalam konteks tersebut, sah-sah saja kita ikut merokok.
Tetapi, perlu diingat bahwa kita harus tetap memperhatikan sekitar (poin nomor 2 diatas). Wajib hukumnya kita pertimbangkan apakah terdapat ibu-ibu, anak-anak, atau orang-orang rentan lain di sekitar kita.
Jika ada, maka jangan menyalakan rokok.
Jika ditanya “Mengapa tidak merokok?”
Bisa kita jawab “Tidak. Sedang ada anak-anak. Saya akan merokok apabila anak-anak sudah jauh.”
Dengan demikian, kiranya, mereka pun akan mengikuti sikap Anda.

Lalu man, bagaimana semisal di nightclub? Lakukan saja. Karena secara situasi, kondisi, dan jenis acara memang sesuai. Dan secara subjek, kecil kemungkinan adanya orang-orang yang rentan rokok. 🙂

Demikian.

Stay positive and well-mannered,

 

Guntur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s