Senja Bahagia

Pemikiran saya terkadang melayang sekian puluh tahun dari sekarang. Menghasilkan beberapa pertanyaan. Salah satunya, “apakah ketika usia senja nanti, saya akan bisa berbahagia seperti saat ini?”

Bahagia sendiri relatif. Tergantung apa yang kita cari dan butuhkan, bukan?

Tempo hari di Oktober 2015, saya dan pacar mengunjungi Pasar Santa. Setelah mengikuti sesi menulis yang diadakan @post_santa, kami pun berjalan-jalan mengelilingi lokasi tersebut.

Makan. Naik-turun tangga. Jepret-jepret. Keluar.

Sesampainya di luar, dibawah terik mentari sore, terdengar sayup-sayup suara check sound dari kejauhan. Pacar saya, reaktif ketika mendengar suara orang ngeband, mengajak saya mendatangi suara tersebut.

Semakin mendekat semakin terdengar lagu Roxanne milik The Police dimainkan.

Seorang lelaki tua menyambut kedatangan kami di lorong sebelah tangga tersebut dengan hangat. Terlihat sekali dia menunjukkan ekspresi menikmati musik yang sedang dimainkan.

Lokasi band tersebut bermain ada di deretan toko vinyl, kedai kopi, dan beberapa toko lain yang telah tutup.

Sambil memesan kopi saya pun mengobrol dengan bapak tersebut. Namanya Pak Radian. Usianya sekitar 57 tahun dengan rambut yang digunduli.

Setelah ngobrol-ngobrol, kami dapati bahwa toko vinyl dan kedai kopi tersebut milik pak Radian dan kawannya. Kawan ngebandnya sejak lama. Sampai-sampai, diatas kedai kopi pun terdapat artwork wajah mereka berdua.

Sambil meminta rokok Pak Radian, saya pun menyeruput kopi sambil menikmati live band asik tersebut. Sementara itu, teman saya sibuk melihat-lihat vinyl di dalam toko. Dan hasilnya, dia sukses membawa pulang 2 vinyl The Beatles.

Di luar toko, para personil bergantian bermain band dan beristirahat. Meski demikian, lagu-lagu The Police konsisten dimainkan.

Waktu terus berjalan. Matahari semakin redup. Saatnya kami meninggalkan lokasi yang nyaman tersebut.

Kopi gayo yang enak, pacar yang-juga-mirip-gayo, rokok non filter gratisan, live music, dan senyuman dimana-mana. Kebahagiaan apalagi yang perlu saya tuntut? 🙂

Kiranya begitu pula bagi Pak Radian dan kawannya, usia senja bukanlah halangan untuk berhenti menghasilkan kebahagiaan. Masih terus melanjutkan hobi ngeband bersama teman-teman, sambil berbisnis kopi dan vinyl adalah kebahagiaan mereka.

Dari perspektif saya, materi bukanlah apa yang mereka cari. Terbukti dari 2 buah vinyl The Beatles, yang awalnya masing-masing di banderol Rp350.000, rela dilepas keduanya seharga Rp550.000.

Pun, status bukanlah hal yang mereka cari. Semisal, tak perlu menjadi anak band terkenal untuk serius mencintai musik.

Sambil pulang, saya pun tersenyum. Kembali diingatkan: Hal apalagi yang harus tidak saya syukuri di dunia ini? 🙂

DSCF2657_resize_resize

DSCF2542_resize_resize

DSCF2531_resize_resize

DSCF2582_resize_resize

DSCF2581_resize_resize

DSCF2546_resize_resize

Pak Radian dan kawannya, dibawah artwork wajah mereka berdua.

Pak Radian dan kawannya. Plus, artwork wajah mereka berdua diatas kedai kopi.

Stay positive!
Salam,
 
Guntur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s