Ngobrol Santai Pekerjaan dan… Uang.

Begitu melekat dalam persepsi kita, utamanya sebagian fresh graduate, bahwa pekerjaan semata-mata berkorelasi dengan uang. That’s all. Dan, uang adalah penentu kebahagiaan kita.
Saya pun terbesit demikian di masa awal saya bekerja.

Hal tersebut tidak sepenuhnya salah.

Yang kita perlu adalah belajar dan menemukan bahwa ada banyak faktor lain yang membuat kita bahagia dan puas dengan pekerjaan kita. Terlebih, ketika nilai kebahagiaan dan kepuasan yang dihasilkan mampu melebihi nilai rupiah (atau dollar) yang kita peroleh. Seperti dikatakan dalam penelitian-penelitian manajemen, bahwa uang adalah faktor penentu kepuasan kerja ke-sekian. Tidak lebih utama ketimbang karakter pekerjaan itu sendiri, kesempatan untuk maju, dan karakter komunikasi atasan terhadap pegawainya.

Hal-hal demikian baru saya temui seiring bekerja dari tahun ke tahun. Saya sendiri bekerja belum genap empat tahun. Tahun 2010 – pertengahan 2014. Dimana 2014 hingga sekarang, atas instruksi kantor, saya off dari kantor dan menjadi full-time student selama 1,5 tahun.

Kembali ke kebahagiaan dan kepuasan dalam bekerja, saya pribadi merasa bahagia dan puas ketika ide-ide saya bagi pekerjaan terpakai, ketika mendapat kesempatan untuk mencari ilmu lebih banyak, dan yang paling penting adalah ketika pekerjaan yang saya lakukan berguna bagi masyarakat banyak. Hal-hal tersebut membuat saya ‘tidak perlu’ melihat slip gaji, apalagi membandingkannya dengan tempat kerja lain. Itu saya, dan mungkin beberapa dari bro juga demikian.

Kita sering dengar bahwa happiness is not always about money..
Mari kita tengok masing-masing,
Teman seumuran dengan penghasilan lebih tinggi dari kita? Banyak.
Teman seumuran dengan penghasilan lebih rendah dari kita? Banyak.
Teman seumuran dengan penghasilan lebih tinggi/lebih rendah dari kita tetapi hidup bahagia? Juga banyak.
Kita pun demikian, mampu bahagia terlepas dari membandingkan penghasilan kita dengan orang lain, bukan?
It’s all about perspectives.. cara pandang kita terhadap suatu hal.

Kembali mengenai pekerjaan, kita pun bertanya “pekerjaan apa yang terbaik diantara yang lain?”
Beberapa menjawab “yang penting di usia 35 bisa financial freedom, bro.” Beberapa pula menjawab “menjadi pengusaha, bro” atau “yang penting bisa meningkatkan iman dan taqwa masyarakat, bro.” Sah-sah saja. Semuanya baik.

Masih mengenai pekerjaan, kita sering mendengar bahwa menjadi pengusaha adalah impian bagi semua orang. Menjadi pengusaha adalah sukses besar. Menjadi pengusaha adalah mulia.
Hal tersebut bisa saja benar.
Tetapi, bukan berarti pekerjaan lain menjadi inferior dibanding pengusaha.
Menjadi dokter yang mengabdi pada masyarakat adalah sama mulianya.
Begitupun menjadi petani, promotor konser, ustadz, guru, tentara, PNS, musisi, dan lainnya.
Semua sama mulianya.

“Tapi kan pekerjaan yang ini suka begitu-begitu? Dan, pekerjaan yang itu suka begini-begini, bro?”
Benar. Tiap pekerjaan pun bisa disalahgunakan.
Pengusaha yang membakar hutan? Ada. Ustadz yang melakukan penyimpangan? Ada. PNS yang terlibat kasus korupsi? Juga ada.
Tetapi, bukan berarti kita harus anti terhadap pekerjaan tertentu, bukan?

Sebagai referensi lain, Jon Davis berkata bahwa “every group has their 10% who embarrass the whole population.” Misalnya, di dalam grup atheis, kristen, islam.. atau bahkan grup tukang cukur (lihat gambar di bawah), selalu ada 10% populasi yang berlaku offensive dan cenderung memalukan.

Gambar oleh Jon Davis.

Gambar oleh Jon Davis.

Sepuluh persen populasi tersebut sangat menarik bagi media untuk meliputnya.”If it bleeds, it leads”, begitu kata pepatah lama di dunia media. Hal tersebut masih berlaku hingga kini, dimana kita tertarik untuk melihat berita negatif mengenai orang atau golongan yang tidak kita suka.

Gambar oleh Jon Davis.

Gambar oleh Jon Davis.

Sekali lagi, it’s all about perspectives. Perspektif menentukan niat kita. Dan niat, menentukan tindakan kita. (Seperti dalam teori psikologi Ajzen, 1991).

All in all, pikiran yang luas dan terbuka haruslah kita jaga.
Sebagai pemuda penerus perjuangan para pahlawan, kita berikan yang terbaik di setiap pekerjaan yang kita jalani. Karena bagaimanapun, setiap pekerjaan haruslah ada, guna menunjang Indonesia agar terus bertumbuh-kembang.

Stay positive and open-minded!
Salam,

Guntur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s